Rabu, 29 April 2015

Serpihan Rasa

Malam sunyi mulai mengubah ramai hariku, ingin terlelap namun tak mampu, menyendiri digelapnya tempat seperti surga. Kenapa aku bilang surga? itu karena disinilah tempat aku kembali setelah panjang hari mengarungi waktu, menelusuri keramaian, tertawa bersama mereka yang tak mengerti apa yang aku rasakan.

Aku punya banyak luka, namun aku tutup rapat semua luka ini, tak ingin ada mereka yang tau, biar aku simpan semua ini sendiri. Itu karena aku hanya ingin tertawa bersama mereka, melepaskan semua beban yang ada, dan bila saat nanti waktunya mereka taupun, mungkin tak akan ada yang peduli.


Satu hal, hanya saat bersama mereka aku bisa sejenak melupakan semua rasa ini, tak lagi terfikir dia dan bayangannyapun seakan hilang. Mereka memang tempat aku melupakan semua ini, canda tawa mereka adalah alasan senyum terlukis diwajah ini.

Kini sunyi sendiri di surgaku, hiruk rasa yang dulu pernah ada datang mengganggu fikiran ini. Seharusnya aku sudah melupakannya, melupakan dia yang dulu pernah ada. Namun malam sunyi kini telah memecah siang yang aku lalui bersama mereka. Bayangnya kini mulai datang dan mengganggu lagi, seakan terputar lagi semua hal yang ingin aku lupakan tentangnya.

Serpihan rasa yang tersisah untuknya, sangat mengangguku. Aku ingin melupakan ini semua, ingin menghapus semua tentangnya, tapi mengapa sulit untuk melakukannya. Logika seakan bicara lupakan, namun rasa ingin terus mengingatnya. Namun yang aku tau kini, setelah penelusuran saat sunyi malamku mencari tau tentangnya, kini dia telah bahagia dengan dia yang lain. Kini mungkin waktunya aku melupakan semua ini, mengikhlaskan dia, dan mulai tersenyum karena melihatnya bahagia dengan dia yang lain.

Mungkin ini hanya serpihan rasa yang akan hilang dengan seiringnya waktu, menghapus semua kenangan yang dulu aku lalui bersamanya, kini dia telah bahagia, mungkin sekarang waktunya aku untuk bahagia. Walau terasa sesak di dada saat merasakan kenyataan ini, tapi inilah kenyataan, aku harus terima semua kenyataan ini.

Aku yakin Tuhan siapkan rencana indah untukku dan untuknya, aku bahagia melihatnya bahagia, dan sekarang waktunya aku bahagia. Semoga setelah ini, serpihan rasa yang dulu pernah ada, takkan lagi mengganggu disetiap malam sunyiku.

Bukan selamat tinggal untuk serpihan rasa, namun jangan lagi menggaguku di kesunyian malam. Biarkan aku mengenang yang bahagia, dan biarkan aku stersenyum melihatmu bahagia, sampai nanti akhirnya aku juga menemukan bahagiaku. Ini bukan hanya serpihan rasa, tapi ini caraku mengenangmu yang kini bahagia. :)