Langsung ke konten utama

Pos

Bumi, kamu dan langit

Bumi kamu adalah saksi bisu yang mendangar bisik ku terkhusus untuk langit, mungkin kamu sudah bosan mendengar suara bisik ku, bisik yang selalu aku ucapkan setiap kali mendekat kening ku padamu. Ada rasa bahagia saat aku bisikkan sosoknya padamu, seakan aku ingin terus berbagi cerita tentangnya. Tentang dia yang memiliki senyum manis yang selalu menjadi semangat baru untuk hariku. Iya kan bumi kamu mendengar bisik ku itu? 

Ini adalah pesan rahasia ya bumi, hanya kamu yang tau dan semoga langit mendengarnya. Aku sih yakin jika langit mendengarnya, yakin sekali jika langit mendengarkan apa yang selalu ku semogakan dan aku yakin sekali, jika langit akan segera menjawab semua bisik itu. 
Sebelum langit menjawab bisik itu, bantu aku mempersiapkan diri ya bumi. Selalu ingatkan aku terus meminta kepada langit, selalu ingatkan aku terus berbisik kepada mu, selalu buat aku rindu mendekatkan keningku padamu. Bantu aku mempersiapkan segalanya sebelum aku menemuinya dan menjeputnya dengan rest…
Pos terbaru

Sedikit waktu

Saat lelah benar-benar menghampiriku, putus asa menghujam semangatku, keyakinan yang runtuh karena berulangkali gagal. Aku butuh sejenak duduk beristirahat, mulai merenungi apa sebenarnya yang salah, sikapku kah, caraku kah, atau memang ini cara Tuhan menguji keyakinanku.
Aku sadar, dari berbagai banyak masalah yang telah aku hadapi aku jadi semakin dewasa, semakin mengerti bagaimana cara menghadapi masalah, mengerti bagaimana cara menyikapi berbagai ujian dan sangat mengerti bagaimana cara mensyukuri sebesar apapun nikmat itu.

Namun hati kecilku bertanya tanya akan sikapku selama ini. Apa mungkin masalah membuat aku semakin kuat, mungkin ini kuat atau memang hatiku sudah sangat membatu. Sehingga aku tidak lagi begitu merasakan masalah yang aku hadapi adalah masalah. Namun aku yakin, dari setiap masalah yang aku hadapi ini adalah rencanaMu Tuhan. Rencana membuat aku menjadi kuat, menjadi dia yang akan lebih siap lagi menghadapi berbagai masalah dan cobaan. Hingga akhirnya aku benar …

Hay kamu

Hay kamu.. iya kamu, boleh kah aku mengenal mu, maaf jika aku menggangu waktu mu. Maaf jika sikapku membuat mu tak nyaman. Perkenalkan aku Muhammad Refai, kamu bisa memanggilku Fai, siapa namamu? Tidak, aku tidak akan menganggumu, maaf jika aku memeberanikan diri untuk mengenalmu, jika kamu merasa terusik oleh sikapku ini, maaf aku akan pergi. Aku hanya seseorang yang terpesona oleh senyum dan sikap lembut yang tak sengaja aku lihat. Ada alasanya mengapa aku seperti ini. Aku teringat akan beberapa tulisan yang pernah aku baca, jika wanita itu menunggu dan kaumku lah yang memulai, wanita itu pemalu, wanita itu gengsi, dan masih banyak lagi. Maka aku beranikan diri  ku ini untuk coba memulai, memulai menyapamu dan mungkin dengan cara ini aku bisa mengenal kamu atau mungkin biasa lebih dari pada itu. Maaf bicaraku ngelantur ya hehe, oh iya aku tinggal tidak jauh dari sini, iya di Bandar Lampung, jika boleh aku ingin tau dimana kamu tinggal? Mungkin jika nanti kita sudah saling kenal, aku…

Senyum seharusnya bahagia

Senyum yang seharusnya menggambarkan kebahagiaan, kini berarti lain saat semua ini terjadi. Kamu seseorang yang sangat aku sayangi, mulai berubah akhir akhir ini. Seakan semua sia-sia perjuangan yang selama ini aku lakukan, sekaan sia-sia semua perhatian yang hanya aku tujukan kepada kamu. Kamu memilih diam dan pergi, tanpa aku mengerti masalah apa sebenarnya, yang membuat kita seperti ini.Awalnya semua baik saja, hingga akhir-akhir belakangan kamu mulai berubah. Mulai jarang menghubungiku, sibuk dengan duniamu, dan seolah tak pedulikan aku yang selalu menunggu kabarmu. Hatiku masih selalu berfikir baik tentang semua ini. Mungkin kamu sibuk dengan urusanmu dan lalu setelah itu  kamu akan menghubungiku, namun nyatanya tidak. Berulang kali aku mencoba untuk menghubungimu, coba untuk mengerti keadaanmu, coba mengerti dengan kesibukanmu, namun nyatanya kamu menjawab datar semua pertanyaanku lalu memutus komunikasi kita. Airmata seakaan taklagi tahan berada didalam mata, lalu melompat jatu…

Kamu yang tau

Terkadang kita berjalan terlalu cepat, melupakan semua hal yang seharunya kita ingat, terobsesi mengejar hal yang kita ingin dan yang kita lihat. Mata seakan teralih akan sesuatu yang baru, mengkilap, cantik, menawan, terlihat sempurna, atau berharap akan beruntung mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan harapan. Tak dipungkiri, kita berharap dapat yang baik, bahkan jika bisa kita mendapatatkan dia yang mengerti, lembut, cerdas, mendamaikan dan melengkapi. Tentu hal yang membahagiakan jika kita memiliki dia yang sosoknya sejak lama kita harapkan.Seakan melupakan segalanya, kita terfokus mencarinya dan mengabaikan dia yang dulu sempat ada. Dia, dia beberapa orang yang mungkin dulu selalu ada dan karena beberapa hal lebih memilih mengakhiri hubungan itu sementara waktu. Dua orang yang saling mencintai, pergi dengan egoisya masing masing. Salah satu di antara keduanya menyesali perpisahan yang terjadi, sebagian yang lain merasa lega karena perpisahan. Mungkin saat itu dia merasa lega, nam…

Bertahan

Kini aku merasa berada di titik paling bawah batas sabarku, ingin rasanya aku ungkapkan semua perasaan yang rasanya meledak-ledak ini. Ingin lari dan pergi tapi aku tak tahu tujuanku. Sulit  bagiku menerima semua kenyataan ini, entah menggapa cobaan yang begitu berat rasanya harus menimpa ku, harus kualami dan harus ku jalani.Mungkin ini skenario yang dulu sudah aku pilih dan aku sepakati oleh Tuhan ku. Dengan keyakinan penuh, yang mungkin dulu rasanya akan aku jalani dan aku lewati dengan mudah. Itu keyakinan dulu yang mungkin aku ungkapkan kepada Tuhan ku, tanpa tahu apa yang akan terjadi sesungguhnya setelah aku turun ke bumi.Kini aku merasa sangat lemah, merasa tidak mampu menjalani semua ini, aku merasa upaya yang telah aku lakukan adalah sia-sia dan menurutku semua ini sudah tak berarti lagi. Ingin aku lupakan semua masalah ini, ingin aku lupakan sekejab saja. Fikirku mudah melupakan semua ini, kusayat saja urat nadiku hingga aku tak bernafas lagi dan aku akan meninggalkan semua…

Serpihan Rasa

Malam sunyi mulai mengubah ramai hariku, ingin terlelap namun tak mampu, menyendiri digelapnya tempat seperti surga. Kenapa aku bilang surga? itu karena disinilah tempat aku kembali setelah panjang hari mengarungi waktu, menelusuri keramaian, tertawa bersama mereka yang tak mengerti apa yang aku rasakan.

Aku punya banyak luka, namun aku tutup rapat semua luka ini, tak ingin ada mereka yang tau, biar aku simpan semua ini sendiri. Itu karena aku hanya ingin tertawa bersama mereka, melepaskan semua beban yang ada, dan bila saat nanti waktunya mereka taupun, mungkin tak akan ada yang peduli.


Satu hal, hanya saat bersama mereka aku bisa sejenak melupakan semua rasa ini, tak lagi terfikir dia dan bayangannyapun seakan hilang. Mereka memang tempat aku melupakan semua ini, canda tawa mereka adalah alasan senyum terlukis diwajah ini.

Kini sunyi sendiri di surgaku, hiruk rasa yang dulu pernah ada datang mengganggu fikiran ini. Seharusnya aku sudah melupakannya, melupakan dia yang dulu pernah a…